Abrori Menangis Saat Baca Pledoi


http://www.suarantb.com/2012/03/01/Sosial/detil4%203.html

Mataram (Suara NTB)
Sidang dengan agenda pembacaan pembelaan (pledoi) terdakwa kasus dugaan terorisme Bima, Abrori Cs berlangsung dramatis. Suasana haru ketika Abrori menangis ketika membaca pledoi pribadinya.

Pada kesempatan sidang pembelaan itu, Abrori benar – benar melampiaskan emosinya. Menurut pria berjanggut ini, dirinya merasa dizolimi oleh aturan –aturan yang dibuat oleh pemerintah.

Abrori mengakui, bahwa serangkaian tindakan yang dilakukan bersama santrinya, termasuk Syakban, adalah bentuk kekecewaan kepada pemerintah yang tak mau mengadopsi aturan Allah yang sudah digariskan melalui Al-Qur’an. Namun pemerintah cenderung membuat aturan sendiri melalui Undang – Undang, yang dampaknya malah mendzolimi masyarakat, khususnya kaum muslimin.

Sementara pledoi yang dibacakan pensihat hukum terdakwa, Aslaludin, SH, prinsipnya menilai tuntutan penuntut umum terlalu dini menyebut keenam terdakwa itu sebagai teroris. Menurut Aslaludin, perbuatan mereka belum ada yang mengarah pada tindak pidana sebagaimana dituduhkan, karena hanya baru perencanaan. Itu pun menurutnya perencanaan untuk mengantisipasi jika ada serangan dari warga atau aparat, ketika mencuat informasi bahwa Ponpes UBK Pimpinan Abrori itu dituding sarang teroris.

Selain terhadap Abrori, PH juga membacakan pembelaan terhadap empat terdakwa lainnya, Asraf, Rahmat Hidayat, Rahmat bin Umar, Furqon, Sya’ban. Sedangkan satu terdakwa lainnya, Mustakim (16) sudah divonis satu tahun penjara beberapa pekan lalu. Proses persidangannya dipercepat karena Mustakim masih dibawah umur.

Sebelumnya, Rudi Gunawan dan tim JPU lainnya menuntut Abrori CS dengan tuntutan hukuman seumur hidup. Pimpinan Pondok Pesantren Umar bin Khatab ini dianggap telah mendalangi otak pemboman dan pembunuhan polisi di Bima. Abrori dituduh telah mencuci otak santri untuk memerangi penegak hukum, seperti polisi, hakim dan jaksa.

Dalam tuntutannya, jaksa menyatakan bahwa Abrori secara sah dan menyakinkan telah melanggar Pasal 14 Junto Pasal 7, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme.

Terbukti dalam persidangan, jaksa mengatakan terdakwa telah merakit 27 paket bom pipa, mengumpulkan anak panah, senjata api, dan telah memberikan paham jihad yang keliru. Sehingga menyebabkan hilangnya nyawa orang, menebar ketakutan umum dan mengarah pada tindak pidana terorisme.

Dikonfirmasi terkait pledoi tersebut, pihak JPU menyatakan akan menyampaikan replik pada agenda sidang pekan depan. Menurut Kasi Penkum dan Humas Kejati NTB, Sugiyanta, SH, dihubungi Suara NTB petang kemarin memastikan, pihaknya merasa perlu untuk menyampaikan bantahan atas pembelaan tersebut. “Kami akan sampaikan replik tertulis pekan depan. Saat ini JPU sudah menerima pledoi tertulisnya sebagai bahan kajian menyusun replik,” kata Sugiyanta yang masih berada di Tangerang. (kmb/nik/ars)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s